Followers

Diberdayakan oleh Blogger.
SELAMAT DATANG di Pembelajaran Inovatif 2 MATEMATIKA, Support By Vickri ,Telp:0896 9966 8625

PROBLEM POSING

Diposting oleh vickri's world Jumat, 19 Juni 2015

PROBLEM POSING



Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pembelajaran Inovatif II

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Lestariningsih, S.pd.,M.pd.

Oleh :
MATEMATIKA 2013 D

1.     Mira Yulia Fiqoini                         ( 1331063 )
2.     Nafi’ Ulil Amri                               ( 1331068 )
3.     Rizul Nurmalita Sari                     ( 1331093 )
4.     Syafa’atul Ilmiah                           ( 1331101 )
5.     Yuli Tri Astutik                             ( 1331120 )




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SIDOARJO
TAHUN 2015

PROBLEM POSING

A.    PENGERTIAN PROBLEM POSING
Problem posing adalah istilah dalam bahasa inggris yaitu dari kata “Problem” artinya masalah, soal, atau persoalan dan kata “to pose” yang artinya mengajukan. Problem posing bisa diartikan sebagai pengajuan soal atau pengajuan masalah. Problem posing adalah salah satu model pembelajaran yang sudah lama dikembangkan, Huda (2013: 276) menyatakan bahwa problem posing merupakan istilah yang pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan asal Brazil, Paulo Freire.
Suryanto (Thobroni dan Mustofa 2012 : 343) mengartikan bahwa kata problem sebagai masalah atau soal sehingga pengajuan masalah dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari situasi yang diberikan. Selanjutnya, Amri (2013 :13) menyatakan bahwa pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing mewajibkan siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal dengan mandiri. Sejalan dengan pendapat tersebut, Thobroni dan Mustofa (2012 : 351) menyatakan bahwa model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model problem posing adalah model pembelajaran yang mewajibkan siswa belajar melalui pengajuan soal dan pengerjaan soal secara mandiri tanpa bantuan guru.

B.     LANGKAH-LANGKAH PROBLEM POSING
Penerapan suatu model pembelajaran harus memiliki langkah-langkah yang jelas, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kinerja guru dan aktivitas yang dilakukan siswa. Amri (2013 :13) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing yaitu :
1.      guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga yang disarankan
2.      memberikan latihan soal secukupnya
3.      siswa mengajukan soal yang menantang dan dapat menyelesaikan. Ini dilakukan dengan kelompok
4.      pertemuan berikutnya guru meminta siswa menyajikan soal temuan di depan kelas.
5.      Guru memberikan tugas rumah secara individual.

Selanjutnya, Saminanto (Maulina, 2013: 20-21) menyatakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran problem posing adalah :
1)      guru menjelaskan materi pelajaran menggunakan alat peraga,
2)      guru memberikan latihan soal,
3)      siswa diminta mengajukan soal,
4)      secara acak, guru meminta siswa untuk menyajikan soal temuannya di depan kelas, dan
5)      guru memberi tugas rumah secara individu.

Langkah-langkah penerapan model problem posing yang dikemukakan oleh Amri dan Saminanto, sejalan dengan pendapat Thobroni dan Mustofa (2012: 351) yang menyatakah bahwa :
1.      guru menjelaskan materi pelajaran kepada siswa menggunakan alat peraga untuk memfasilitasi siswa dalam mengajukan pertanyaan,
2.      siswa diminta untuk mengajukan pertanyaan secara berkelompok,
3.      siswa saling menukarkan soal yang telah diajukan,
4.      kemudian menjawab soal-soal tersebut dengan berkelompok.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, bahwa langkah-langkah problem posing adalah siswa mengajukan dan menjawab soal dengan berkelompok berdasarkan penjelasan guru ataupun pengalaman siswa itu sendiri.
Maka, langkah-langkah yang digunakan adalah :
1)      menjelaskan materi pelajaran dengan media yang telah disediakan,
2)      membagi siswa menjadi kelompok secara heterogen,
3)      secara berkelompok, siswa mengajukan pertanyaan pada lembar soal,
4)      menukarkan lembar soal pada kelompok lainnya,
5)      menjawab soal pada lembar jawab, dan
6)      mempresentasikan lembar soal dan lembar jawab di depan kelas.

C.    CIRI-CIRI PROBLEM POSING
Problem posing adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran secara langsung untuk memberi kesempatan kepada siswa dalam menganalisis permasalahan yang ada dengan serangkaian kegiatan-kegiatan yang lebih bermakna.
Proses pembelajaran didominasi dengan kegiatan-kegiatan siswa yang secara langsung dengan situasi yang telah diciptakan guru.
Dalam kegiatan tersebut, maka siswa dapat membuka wawasan yang dimilikinya dan memberikan kesempatan yang luas untuk saling berkomunikasi.
Thobroni dan Mustofa (2012: 350) menyatakan bahwa pembelajaran problem posing memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru
2.      Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan menstimulasi daya pemikiran kritis murid-muridnya serta mereka saling memanusiakan.
3.      Manusia dapat mengembangkan kemampuannya untuk mengerti secara kritis dirinya dan dunia tempat ia berada.
4.      Pembelajaran problem posing senantiasa membuka rahasia realita yang menantang manusia kemudian menuntut suatu tanggapan terhadap tantangan tersebut.

Berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, bahwa model problem posing ini bersifat fleksibel, mengesankan, menganggap murid adalah subjek belajar, membuat anak untuk mengembangkan potensinya sebagai orang yang memiliki potensi rasa ingin tahu dan berusahan keras dalam memahami lingkungannya.


D.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PROBLEM POSING
Setiap model pembelajaran pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Thobroni dan Mustofa (2012: 349) mengemukakan bahwa kelebihan metode problem posing adalah :
1.      Mendidik murid berfikir kritis
2.      Siswa aktif dalam pembelajaran
3.      Belajar menganalisis suatu masalah
4.      Mendidik anak percaya pada diri sendiri.
Menurut Norman dan Bakar (2011) menguraikan bahwa kelebihan model problem posing adalah:
1.      Kemampuan memecahkan masalah/ mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi
2.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman siswa / terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan.
3.      Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah
4.      Meningkatkan kemampuan mengajukan soal dan sikap yang positif terhadap materi pembelajaran.

Sejalan kedua pendapat diatas bahwa kelebihan model pembelajaran problem posing yaitu :
1.      Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran
2.      Minat yang positif terhadap materi pembelajaran
3.      Membantu siswa untuk melihat permasalahan yang ada sehingga meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah
4.      Memunculkan ide yang kreatif dalam mengajukan soal
5.      Mengetahui proses bagaimana cara siswa memecahkan masalah.

Kekurangan model problem posing yaitu :
1.      Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama
2.      Agar perlaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku-buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.
E.     TIPE MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
Tiga tipe model pembelajaran problem posing yang dapat dipilih guru(Usmanto,2007). Pemilihan tipe ini dapat disesuaikan dengan tingkat kecerdasan para siswa( peserta didik).
1.      Problem posing tipe pre-solution posing
Siswa membuat pertanyaan dan jawaban berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Jadi, yang diketahui pada soal itu dibuat guru, sedangkan siswa membuat pertanyaan dan jawabannya sendiri.
2.      Problem posing tipe within solution posing
Siswa memecahkan pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan yang relevan dengan pertanyaan guru.
3.      Problem posing tipe post solution posing
Siswa membuat soal yang sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh guru.  Jika guru dan siswa siap maka siswa dapat diminta untuk mengajukan soal yang menantang dan variatif pada pokok bahasan yang diterangkan guru. Siswa harus bisa menemukan jawabannya. Tetapi ingat, jika siswa gagal menemukan jawabannya maka guru merupakan narasumber utama bagi siswanya. Guru harus benar-benar menguasai materi.

F.     PERAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
Peran guru dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Rohman dan Amri (2013: 180) menyatakan bahwa sebagai perencana, guru dituntut untuk memahami secara benar kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada, sehingga semuanya dapat dijadikan komponen-komponen dalam menyusun rencana pembelajaran. Rusman (2012: 75) menyatakan bahwa jika dipandang dari segi siswa, maka tugas guru adalah harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktik-praktik komunikasi. Thobroni dan Mustofa (2012: 348) menyatakan bahwa yang harus dilakukan guru adalah :
1)      Memotivasi siswa untuk mengajukan soal
2)      Guru melatih siswa merumuskan dan mengajukan masalah atau pertanyaan berdasarkan situasi yang diberikan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan peran guru adalah tindakan yang dilakukan guru untuk memberikan suasana belajar sesuai dengan tema pembelajaran dan mengantarkan siswa untuk memahami pada konsep dengan cara menyiapkan situasi sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dibahas. Adapun peran guru dalam model pembelajaran problem posing adalah sebagai fasilitator yaitu menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dibahas.

G.    PRINSIP-PRINSIP
Guru matematika dalam rangka mengembangkan model pembelajaran problem posing (pengajuan soal) dalam pembelajaran matematika, dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar berikut :
1.      Pengajuan soal harus berhubungan dengan apa yang dimunculkan dari aktivitas siswa di dalam kelas.
2.      Pengajuan soal harus berhubungan dengan proses pemecahan masalah siswa.
3.      Pengajuan soal dapat dihasilkan dari permasalahan yang ada dalam buku teks, dengan memodifikasikan dan membentuk ulang karakteristik bahasa dan tugas.

H.    PROBLEM POSING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Menurut National Council of Teachers of Mathematics (NCTM : 2000) yang dikutip oleh Ilana Lavy and Atara Shriki, problem posing diakui sebagai komponen penting dari pembelajaran matematika. Stoyanova dalam Ken Clements dan Christine Keitel (1996:1011) mengklasifikasikan informasi atau situasi problem posing menjadi:
1.      Situasi problem posing yang bebas, pada situasi ini, siswa tidak diberikan suatu informasi yang harus ia patuhi, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk soal sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Siswa dapat  menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan soal.
2.      Situasi problem posing yang semi terstruktur, pada situasi ini siswa diberi situasi atau informasi yang terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mencari atau menyelidiki situasi atau informasi tersebut dengan cara menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, siswa harus mengaitkan informasi itu dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang diketahuinya untuk membentuk soal.
3.      Pada situasi problem posing yang terstuktur, informasi atau situasinya berupa soal atau selesaian dari suatu soal.

Respon siswa yang diharapkan dari situasi atau informasi problem posing adalah respon berupa soal buatan siswa. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan siswa membuat yang lain, misalnya siswa hanya membuat pernyataan.  Silver dan Cai dalam Abdussakir mengklasifikasikan respon tersebut menurut jenisnya menjadi tiga kelompok, yaitu:
1)      Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang memuat masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Pertanyaan matematika ini, selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu:
a.       Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan yaitu pertanyaan yang memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan, atau jika pertanyaan tersebut memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada. Selanjutnya pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan juga dibedakan atas dua hal, yaitu pertanyaan yang memuat informasi baru dan pertanyaan yang tidak memuat informasi baru.
b.      Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan.
2)      Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak memuat masalah matematika dan tidak mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan.
3)      Sedangkan pernyataan adalah kalimat yang bersifat ungkapan atau berita yang tidak memuat pertanyaan, tetapi sekedar ungkapan yang bernilai benar atau salah.

Menurut Brown and Walter dalam Abdussakir (2009)  ada lima tahapan utama dalam  problem posing, yaitu:
1.      Memilih titik awal.
Pemilihan titik awal dapat dengan menggunakan bahan yang konkret atau teorema.
2.      Mendaftar apa yang diketahui dari masalah atau situasi yang diberikan.
3.      Menggali konsep dengan pertanyaan "bagaimana-jika-tidak".
Penggalian konsep dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan seperti: "Bagaimana jika hal yang diketahui tidak demikian, apa yang bisa dilakukan?"
4.      Mencari, mendefinisikan, dan mencatat hal yang baru berdasarkan pertanyaan “bagaimana-jika-tidak” sebelumnya.
5.      Membuat pertanyaan-pertanyaan baru dan analisis pertanyaan tersebut setelah semua masalah direncanakan.

Selain itu, Brown dan Walter, dalam Abdussakir (2009), juga mengungkapkan bahwa informasi atau situasi problem posing dapat berupa gambar, benda manipulatif, permainan, teorema atau konsep, alat peraga, soal, atau selesaian dari suatu soal. Sementara itu, menurut Setiawan (2004), pembentukan soal atau pembentukan masalah terdiri dari dua kegiatan yaitu:
1)      Pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau pengalaman siswa.
2)      Pembentukan soal dari soal lain yang sudah ada.

Phylips Within, mengemukakan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menerapkan problem posing adalah sebagai berikut:
1.      Melibatkan siswa dalam membahas masalah baru dengan teliti.
2.      Meminta siswa mencatat tentang apa yang mereka bicarakan, mereka tulis dan mereka gambar berdasarkan temuan mereka.
3.      Meminta siswa mengajukan soal  atau petanyaan berdasarkan hasil pengamatan mereka.
4.      Meminta siswa untuk memilih salah satu soal atau pertanyaan yang mereka buat untuk diprediksikan solusinya.
5.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan atau mendiskusikan temuan mereka dengan siswa yang lain.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan, langkah-langkah penerapan pendekatan problem posing dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
1)      Guru menyajikan informasi atau  situasi kepada siswa dengan menggunakan gambar, benda manipulatif, permainan, teorema atau konsep, alat peraga, soal, atau selesaian dari suatu soal.
2)      Siswa mencatat hal-hal yang telah diketahui dari situasi atau informasi yang telah diberikan.
3)      Siswa membuat pertanyaan atau soal dengan menggali konsep dari hal-hal yang telah diketahui.
4)      Siswa menganalisis pertanyaan atau soal  yang telah dibuat dan memprediksi solusi dari soal tersebut.
5)      Siswa mendiskusikan hasil pekerjaannya dengan siswa yang lain.











0 komentar

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
vickri's world
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates